
KUALA KAPUAS,- Bajentanews- Wakil Bupati Kapuas, Dodo, memimpin langsung Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah Kabupaten Kapuas tahun 2026, Selasa 12/05/2026.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh Kepala BPK PK Provinsi Kalteng, Kepala BMKG Provinsi Kalteng, unsur perangkat daerah, pimpinan BUMN, sektor perbankan, perusahaan swasta serta para Camat.
Dalam arahannya, Wakil Bupati menekankan bahwa Kabupaten Kapuas tetap menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan Karhutla yang cukup tinggi di tingkat nasional.
“Karhutla bukan hanya soal api, tapi asap yang ditimbulkan sangat berdampak pada kesehatan, pendidikan, transportasi, hingga ekonomi masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar Dodo.
Berdasarkan kajian nasional periode 2022-2026, Kabupaten Kapuas memiliki total luasan risiko Karhutla yang mencapai 1.443.744 hektar.
Dodo menegaskan bahwa pencegahan dini merupakan kunci utama dalam menghadapi ancaman musim kemarau tahun ini agar bencana kabut asap tidak meluas.
Wabup Kapuas menginstruksikan kepada seluruh Camat dan Kepala Desa untuk segera bergerak aktif di lapangan dengan menghidupkan kembali infrastruktur pengawasan.
“Pencegahan adalah kunci. Saya minta kepada seluruh Camat dan Kepala Desa untuk mengaktifkan kembali posko siaga Karhutla di tingkat desa dan kelurahan,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya koordinasi satu komando antar instansi terkait seperti BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta para relawan di lapangan.
Pemerintah daerah juga akan mengambil langkah tegas dalam hal regulasi dan penegakan hukum bagi pihak-pihak yang melanggar aturan pembukaan lahan.
“Penegakan hukum harus tegas. Sinergi dan cepat tanggap harus satu komando, serta edukasi berkelanjutan untuk mengubah pola pikir masyarakat melalui sosialisasi pembukaan lahan tanpa membakar,” imbuhnya.
Menutup arahannya, Dodo mengingatkan semua pihak agar tidak lengah dan belajar dari pengalaman pahit bencana kabut asap besar yang pernah terjadi sebelumnya.
“Tahun 2015 hingga 2019 menjadi pelajaran mahal bagi kita semua. Dampak kabur asap lintas negara sangat mencoreng nama daerah, jangan sampai hal itu terulang kembali,” pungkas Dodo. //Red_Her.

